Refleksi Hikmah Malam Isra’ Mi’raj di Hari Lahir (16/5/2015)


Saat ini bukan lagi hanya sebatas refleksi perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari untuk menerima perintah sholat. tetapi lebih memaknai peristiwa itu pada konteks yang riil, karena peristiwa itu memiliki labirin dan makna simbolik baik pada tatanan kemanusiaan maupun teologi kepemimpinan.

Isra’ mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas yang menjadi tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. perintah sholat diperintahkan oleh Allah bukan hanya semata-mata sebagai kewajiban yang bersifat ritual melainkan sebagai wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohhkan bangunan-bangunan kemungkaran yang ada di muka bumi ini.

Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai motivasi untuk lebih sungguh-sungguh dalam memaknai isra’ mi’raj ini, dalam peristiwa ini terdapat spirit kepemimpinan

Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.

Dalam konteks kekinian, jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hati kotor, semisal melakukan suap-menyuap, maka penting juga disucikan, bahkan kalau perlu direndam (dalam penjara). Pemimpin yang hatinya kotor mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Alih-alih mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

Kedua, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjauhi tindakan korupsi, skandal suap dan sek yang akhir-akhir ini kian merebak di kalangan wakil rakyat. Karena tindakan-tindakan tersebut lebih parah dari pada sekedar minum khamar.

Ketiga, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi semua bangsa.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s