PLURALITAS DAN INKLUSIVITAS


Di kontemporer ini tidak sedikit tarbiyah-tarbiyah yang bercorak ekslusif, tertutup, sektarianistik, primordialistik, parokialistik, madzabiyyah, dan lain-lain. Situasi semacam ini tidak hanya terjadi pada masa 1970-an saja melainkan pada batas-batas tertentu sampai sekarang bahkan sampai kapanpun masih mendarah daging sehingga masih ada yang menginginkan yang namanya Islamdom(khilafah, Islam politik, daulah islamiyah), ini menjadi wajar ketika ditelaah dari sisi popolasi masyarakat Indonesia yang sekitar 87 % beragama Islam, sehingga adanya sebuah gerakan untuk mendirikan semacam Negara agama atau Negara Islam dengan mengesampingkan the founding father-mother para pendiri republik, Negara-bangsa, Indonesia.

Wilayah Timur Tengah (Arab Spring) mengalami kegagalan besar dalam merawat sendi-sendi kehidupan dan tata kelola Negara-bangsa, karena masih kuatnya suatu ideology, doktrin, pemahaman sosial-politik (prinsip keislaman) atau dikenal dengan sebutan al-wala’ wa al-bara’, yaitu setia dan loyal hanya kepada orang, golongan, organisasi, sekte, partai yang seagama, sekeyakinan, semadzab, sehaluan, dan tidak loyal atau menolak adanya pemimpin yang tidak berasal dari golongan agama, madzab, organisasi atau sektenya sendiri. Hal semacam ini sudah mendarah daging untuk merebukan kekuasaan sosial-politik di wilayah timur tengah. Doktin semacam ini tidak hanya sebatas dalam menentukan pemimpin saja, melainkan juga sudah melebar ke wilayah sejarah dan budaya.

Sering kita menjumpai ketika menjelang/saat perayaan ibadah non-muslim terjadi pengeboman ditempat ibadah mereka, penghancuran situs-situs kebudayaan, yang dianggap sebagai simbol syirk dan dianggap bertentangan dengan pemahaman subjektif akidah dan syari’ah Islam yang mereka pahami.

Ini merupakan suatu kekurangan dan kelemahan dari Islam yang ada di Arab Spring khususnya dan Negara-negara Muslim pada umumnya, dimana pemikiran Islam yang tidak mendapatkan sentuhan social sciences dan masukan berharga dari pemikiran kritis-filosofis-akademis yang biasa dikaji dalam humaniora kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s