KONTEKSTUALITAS PEMIKIRAN ISLAM


Pemikiran-pemikiran Islam wajib melibatkan akan sebuah konteks kultural, sosial, dan sains. karena pada dasarnya Pemikiran Islam dimanapun mesti terjalin dengan kuat dimana Islam itu dipahami, tumbuh, menyebar, dan berkembang. Pemikiran Islam tidak dapat keluar dan lepas dari sebuah konteks yang disebut space and time dan tingkat perkebangan suatu ilmu pengetahuan. Sehingga ini sangat berbeda kalau kita bandingkan Islam yang ada di wilayah Asia (Indonesia) dengan Islam di wilayah Timur-Tengah, karena sudah berbeda corak rancang bangun epistemologi dan sosio-kulturnya. Begitu juga sama halnya Islam yang ada di wilayah barat seperti Eropa, Amerika, Australia, dan di wilayah Afrika.

Bukan barang mudah dalam memahami sebuah perbedaan meskipun dalam satu atap (Islam) kalau masih menggunakan pendekatan lama (tekstual), tidak ada cara lain kecuali keluar dari format teologi-tekstual ke format teologi-kontekstual. Dalam buku “The Venture of Islam” karya Marshall G.S Hodgson tentang bagaimana membedakan tiga bentuk fenomena peradaban Islam:pertama, fenomena Islam sebagai doktrin (Islamics);kedua, fenomena ketika doktrin itu masuk dan berproses dalam masyarakat-kultural (Islamicate) dan mewujudkan diri dalam konteks sosial dan kesejahteraan tertentu;ketiga, ketuka Islam menjadi sebuah fenomena “dunia Islam” yangbbersifat politis dalam lembaga-lembaga kenegaraan (Islamdom).

Seperti yang telah diutarakan oleh para Intelektual Muslim Indonesia, bahwa jangan sampai umat Muslim terjebak dalam diri mereka mudah puas dan berhenti berfikir pada pemikiran Islam klasik atau bahasa populernya turats (di sini, saya memahaminya dalam makna yang sangat terbatas, yaitu Islam dalam teks) semata, melainkan menembus dan melihat peradaban Islam dalam realitas sejarah sosial-budaya konkret yang mengitari dan mengelilingi teks, baik di era klasik, tengah maupun modern

Disini nanti akan terasa betul perkawinan dan jalinan antara khazanah intelektual Muslim klasik dan Ilmu-ilmu sosial modern.

Uniknya di Indonesia, dengan keaneka ragaman yang ada, tetapi mampu mengatasinya dengan tanpa adanya kekerasan yang menimbuklan korban. Tentunya ini tidak bisa lepas dari peran para pemimpin, ulama’, cendekiawan, intelektual Muslim Indonesia di dalam mengawal Konstitusi dan demokrasi dalam negara-negara modern.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s