Refeksi Sumpah Pemuda


Potret Nasionalisme Bangsa Indonesia adalah dengan mengukur seberapa besar kecintaan pada Negara Indonesia, Semangat Bela Negara, Semangat membangun bangsa sesuaikemampuan. Bukti nyata dari kesetiaan terhadap bangsa ini adalah dengan selalu menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Pemerintah berusaha keras untuk mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya, sebaliknya rakyat juga harus bekerja keras untuk menjadi masyarakat mandiri. Kita harus akui bahwa negara kita adalah negara kaya, negara kita penuh budaya, bahasa, kekayaan laut, hutan lindung, satwa, tambang, pertanian, yang tak dimiliki bangsa lain.

Dengan kekayaan tersebut masih banyak orang kelaparan, anak kecil terkena busung lapar, kebodohan merajalela, kekerasan ada dimana-mana, banjir bandang dan bencana lainnya. Kenapa dengan kekayaan alam indonesia menjadikan masyarakatnya menangis tiap malam karena tidak tahu besok harus makan dengan apa, masyarakat juga sedih memikirkan bagaimana bisa berjualan karena susahnya minyak tanah didapat, harga BBM melambung tinggi, katanya kita kaya hasil tambang.

Sampai suatu saat, masyarakat indonesia sudah tidak bisa hidup di negeri sendiri, terpaksa mereka merantau dan mencari penghidupan lain di negeri orang lain, menjadi apapun tak masalah asal mereka bisa hidup, lantas ada masalah apa dengan kekayaan bangsa ini.

Disaat para pemimpin bangsa menyerukan untuk berbangga karena berbangsa indonesia, ternyata kenyataan bicara sebaliknya, masyarakat kita tak cukup bahagia dengan tanah kelahiran, kecintaan mereka pada tanah air menjadi kekecewaan.

Disaat para pemimpin bangsa menyerukan bahwa indonesia kaya dengan pertanian, indonesia adalah negara agraris, namun kenapa harga beras masih melambung tinggi, kenapa juga masih ada kata “impor beras”. Lalu dimana sebenarnya kekayaan hasil pertanian dari “negara agraris” ini.

Disaat para pemimpin bangsa menyerukan bahwa sekolah-sekolah akan dibangun, fasilitas akan di benahi, gaji guru akan dinaikkan, milliaran beasiswa akan disebar untuk anak negeri. Tapi kenyataan biaya pendidikan sekolah masih sangat mahal, bahkan tiap tahun selalu melangit, menjadikan banyak anak tak sekolah, banyak orang tua berbisik pada anaknya, tak usah sekolah tinggi2 nak, yang penting bisa baca tulis sudah cukup, sekolah mahal dan lihatlah para sarjana di negara ini, mereka sama saja dengan yang lain, sulit untuk hidup di negeri sendiri.

Disaat masyarakat semakin kesusahan karena kebutuhan hidup menjadi mahal, sedangkan mencari uang semakin sulit, kita hanya bisa melihat berita korupsi pejabat pemerintah kita di televisi, orang tua selalu berkata pada anaknya, bahwa koruptor yang merugikan bangsa ini adalah penghianat dan seharusnya mereka hengkang dari bumi indonesia. Mereka yang menjual harga diri bangsa, menjual aset bangsa demi keuntungan perut mereka sendiri adalah pecundang. Namun kenapa para pecundang dan para koruptor itu tetap tertawa dan merasa kerasan hidup di negeri kita, tak sadarkan kita telah dijajah, penjajah itu memanfaatkan tangan-tangan penguasa kita. Sama seperti dulu.

Jika dulu pemuda indonesia melihat krisis dinegeri kita, dengan lantang mengikrarkan sumpah pemuda. Untuk mempersatukan seluruh komponen bangsa, apapun partai politiknya, daerah mana, budayanya apa, kampung atau kota, miskin atau kaya, pejabat atau rakyat biasa. Semuanya dengan sungguh-sungguh dari hati meneriakkan sumpah pemuda yang menggetarkan seluruh jiwa raga pemuda indonesia.

SOEMPAH PEMOEDA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Bacalah dan renungkan dalam hati, bahwa sebenarnya kita ini sama, sama-sama hidup dan lahir di atas tanah indonesia, berjuang menghadapi keras dan kejamnya kehidupan. Ditanah ini juga, tetesan darah pahlawan masih terasa. Mereka mengorbankan nyawa untuk mengusir penjajah. Namun kini, para penjajah telah menyewa tangan-tangan anak bangsa, apakah tega kita meneteskan darah untuk mengusir penjajah yang notabene adalah satu darah, satu jiwa, satu bangsa, satu bahasa yaitu INDONESIA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s